Malam itu, bersama kantuk yang tak kunjung datang. Aku lupa entah siapa yang lebih dulu mengajak interaksi. Namun cukup banyak yang ingin ku tuangkan melalui kejaran-kejaran pesan singkat Jika dirimu merasakan ini yang pertama kali maka aku pun juga. dan semoga saja bisa menjadi sebuah cita yang kelak aku tunaikan secara jantan. masih ingatkah waktu itu aku merasakan yang baru yang lebih bermakna dan ada degupan mimpi suci yang aku niatkan. sengaja aku tak mengabarkannya karena bisa jadi ini akan merusak hati dan sekaligus merusak titipan yang Allah titipkan di celah-celah keimanan itu. Kini seperti tak ada penolakan lagi atau masihkah aku yang terlalu tinggi menerbangkan sayap kendali. Entahlah, yang ku tau kau masih seorang yang beriman. Aku belajar cinta dari seorang syaikh Sayyid Quthb, ia mengajarkanku banyak. mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya. walau aku tak kan mampu mengejar keheroikan daya juangnnya. Ia seorang pejuang yang ternyata punya pula janji suci yang tentunya tidak ia ucapkan langsung namun hanya ia pendam sebagai kekuatan atau bisa jadi tak pernah ia wajahkan kepada sosok yang memikat hatinya. cukup Allah saja yang tahu setiap amalan tertentu telah di tentukan waktunya kita tunggu saja waktu mainnya. aku pun tak akan khawatir jikalu kau di cintai oleh orang yang kucintai juga karena ini pun ku temukan di dalam kisah yang bercerita tentang kemegahan hati para sahabat Rasulullah. kemegahan hati itu berceloteh bahwa “aku mencintai setiap insan yang beriman siapapun ia” . Menjadi orang yang sabar sekaligus sadar itu penting. Sabar menjalani titipan juga sadar bahwa itu memang hiasan semata. ketahuilah ada yang lebih istimewa dari duniadan seisinya. Bukan bidadari yang menjadi motivasi masuk surga namun karena Allahlah motivasi tertinggi. Aneh memang ketika ada seorang sufi yang rela dan bahagia masuk neraka jika memang kehendak itu merupakan Keridhoan Allah untuknnya. Apalagi yang aku, yang tak seberapa memandangmu. menurutku keimananmu lebih kuat di bandingkan godaan tentangku. yang ku tahu kau tidak narsis tapi tetap eksis. dan biarkan aku cukup tahu sedikit saja tentang dirimu karena aku tak butuh banyak. aku hanya butuh komitmen iman. bertemu karena iman dan berpisahpun karena iman. kemudian ada semangat yang ingin ku sampaikan semangat itu bernama “dakwah”. inilah semangat yang akan ku bawa dan ku pertahankan jika Allah berkehendak mempertemukan kita bersama titipan cintaNya. dan yang ku tahu kaulah orangnya. kaulah orangnya yang senyuman imanmu memancarkan kesejukan untukku. ah maaf bukan untukku lebih tepatnya untuk orang-orang di sekitarmu dan aku sedang berada di luar pagar rumah hatimu yang hndak mengetuk pintunya dengan ucapan “basmallah”. terimakasih atas warna tarbiyah yang pernah engkau bagi. terimakasih pula engkau telah mengajariku arti kesucian itu. dan terimakasih telah berbagi semangat. banyak sekali yang ingin ku ceritakan untukmu. tataplah mushaf alquran maka niscaya aku pun menatapnya kita bersama menatap bersama menatap tulisan indah kalamullah dan kita menitikan air mata bersama atas nama ketaatan. Ramadhan kali ini semoga saja menjadi Ramadhan terakhir karena besok aku akan “ssst” mengajakmu bekerja sama mau? kita songsong bersama indahnya hidup dengan iman. dan menyempurnakan iman itu adalah tahta suci yang harus kita raih. semoga bersama akan saling menguatkan.
oh iya aku juga ingin bercerita bahwa fitnah itu semakin menjadi-jadi. sepertinya aku harus bersegera mengetuk pintu rumah orang tuamu dan kalau bisa kau pun segera membukakan pintu itu.
seorang ibu : “ujang ti mana ?, saha namina teh ? bade naon ka rorompok ibu ?”
sayah : “abdi ti parung bu. nami abdi muhammad zain ?, bade naroskeun pun ibu gaduh putri, neng “…” “
*hahahaha menghayalkan detik-detik mendebarkan itu. tapi insya Allah sayah siap. Bismillah… “kan ada Allah”. meminjam perkataanmu juga. hehehe
Advertisements